Tampilkan postingan dengan label Penerbangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penerbangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juli 2013

HARI TERAKHIR MOPDB SMK PENERBANGAN ANGKASA BOGOR !

Inilah peleton 2 kelas hercules siswa SMK PENERBANGAN ANGKASA BOGOR di saat hari terakhir mopdb di suguhi acara penanaman pohon, setiap peleton atau yg artinya peleton itu pasukan mendapatkan 2 pohon yg akan di tanam oleh setiap peleton, semoga pohon yg kita tanam subur dan tumbuh dan berkembang baik.






Dan setelah usai acara penanaman pohon peleton 2 bergegas menuju gedung megantara dengan tertib, tak jauh dari sekolah, untuk melanjutkan acara berikutnya yaitu motifator atu untuk membangkitkan motifasi siswa SMK PENERBANGAN ANGKASA BOGOR, sayangnya saya tidak memiliki foto di saat acara itu di sana suasananya campur aduk terharu, senang, serius untuk menebank gambar yg menipu mata hahahah dan melakukan sedikit senam otak yg di lakukan dengan kedua tangan.
di gedung megantara kita dibikin CRY di depan orang tua dan setelah CRY siswapun bergegas berlarian... mencari oarang tuanya untuk meminta maaf .













sekian dari saya Firman Agung.R mohon maaf jika ada sesuatu yg terlewatkan tak tertulis karna saya sedikit lupa dan mohon maaf kepada danton pemimpin pleton 2 jika kita semua membuat jengkel.... 

Kamis, 06 Juni 2013

Merpati Nusantara Airlines

Merpati Nusantara
Logo merpati lowres.jpg
IATA ICAO Kode panggil
MZ MNA MERPATI
Didirikan 6 September 1962






Kota tujuan 87
Kantor pusat Jakarta Pusat, Jakarta, Indonesia
Orang penting Rudy Setyopurnomo - CEO
Situs web www.merpati.co.id
Merpati Nusantara Airlines atau selanjutnya dikenal dengan nama Merpati Nusantara yang selanjutnya dikenal sebagai Merpati dengan kode penerbangan MZ adalah salah satu perusahan penerbangan nasional domestik di Indonesia. Pernah beberapa tahun yang lalu menerbangan rute rute regional Asia Tenggara dan Australia. Maskapai ini masuk penilaian kategori 1 (kinerja sangat baik) dari Kementerian Perhubungan[1]. Merpati mendapatkan penilaian bintang 2 (kualitas pelayanan kurang) dari Skytrax[2]. Dalam masalah keselamatan penerbangan, maskapai ini memiliki rekor keselamatan yang tergolong buruk jika dibandingkan maskapai Indonesia lainnya, terutama disebabkan oleh fokus penerbangan maskapai ini ke wilayah Indonesia Timur yang fasilitas bandaranya masih minim. Seperti beberapa maskapai Indonesia lainnya, maskapai ini masuk daftar hitam Uni Eropa karena masalah keamanan dan keselamatan.
Bermodal Rp10 juta dan enam pesawat, Merpati Nusantara Airlines memulai usahanya sebagai jembatan udara yang menghubungkan tempat-tempat terpencil di Kalimantan. Sejak berdiri, tanggal 6 September 1962, sampai sekarang, Merpati mengalami pasang surut. "Jembatan Udara Nusantara". yang sarat misi ini memang seringkali dihimpit masalah.
Merpati "lahir" berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.19 tahun 1962 yang menetapkan pendirian perusahaan negara perhubungan udara daerah dan penerbangan serbaguna Merpati Nusantara, yang disebut juga PN Merpati Nusantara. Perusahaan milik negara ini memiliki lapangan usaha, meliputi penyelenggaraan perhubungan udara di daerah-daerah dan penerbangan serbaguna serta memajukan segala sesuatu yang berkaitan dengan angkutan udara dalam arti kata yang seluas-luasnya. Maksud dan tujuannya adalah dalam rangka turut membangun perekonomian nasional di sektor perhubungan udara dengan mengutamakan kepentingan rakyat.
Sebuah Merpati Nusantara Vickers Vanguard 953 Tahun 1977
F-28 Merpati
Awalnya, Merpati memiliki armada jenis de Havilland Otter/DHC-3 empat unit dan Dakota DC-3 dua unit, yang merupakan pesawat hibah dari Angkatan Udara Republik Indonesia (TNI AU). Ketika itu diketahui, modal awal perusahaan berupa uang rupiah lama sejumlah Rp10 juta. Para pilot dan teknisi dipasok dari AURI, Garuda Indonesia (dulu Garuda Indonesia Airways), dan perusahaan penerbangan sipil lainnya.
Sebagai direktur utama, ditunjuk Komodor Udara Henk Sutoyo Adiputro (1962-1966), yang membawahi hanya 17 personel. Beberapa bulan kemudian, tahun 1963, penerbangan Merpati pun tak hanya di Kalimantan, tapi juga menerbangi rute Jakarta-Semarang, Jakarta-Tanjung Karang, dan Jakarta-Balikpapan.
Tahun 1964, Merpati menerima penyerahan seluruh hak konsesi dan operasi, serta kepemilikan sejumlah pesawat bekas maskapai Belanda NV de Kroonduif dari Garuda. Pengalihan ini dilakukan, dengan alasan Garuda sedang mengembangkan kegiatan untuk menjadi flag carrier nasional dan internasional. Pesawat hibah itu adalah tiga Dakota DC-3, dua Twin Otter dan satu Beaver. Dengan armada 12 pesawat, Merpati mulai tumbuh. Penerbangannya mulai merambah Papua (Irian Jaya), Sumatera, dan Nusa Tenggara Barat.
Seiring pertumbuhannya, Merpati memandang perlu untuk memperkuat armadanya dengan tambahan tiga Dornier DO-28 dan enam Pilatus Porter PC-6. Namun, beberapa pesawat sebelumnya ada yang tidak lagi dapat dioperasikan sehingga armada efektif Merpati 15 pesawat. Jumlah karyawan Merpati pun bertambah, menjadi 583 orang.

Misi pemerintah

Latar belakang pendirian Merpati adalah untuk mengemban tugas dan misi dari pemerintah. Namun, sejak tahun 1966, Merpati mulai mengkomersialkan diri, di bawah Dirut Capt. R.B. Wibisono (1966-1967). Pada masa ini juga, perusahaan memperluas wilayah operasinya di Papua dan membeli tiga pesawat Pilatus Porter. Misinya, berupa penerbangan-penerbangan perintis, tetap dijalankan. Merpati pun menerima bantuan tiga Twin Otter dari PBB.
Pada masa Marsekal Pertama Udara Santoro Suharto (1967-1975), terlihat kemungkinan Merpati bisa mandiri. Maka, pemerintah daerah mengurangi subsidi operasi penerbangan perintis. Namun, ternyata, pengurangan subsidi tersebut menimbulkan masalah keuangan yang cukup pelik karena penerbangan komersialnya belum beroperasi dengan mantap.
Pemerintah turun tangan lagi, dengan memberinya konsesi untuk ikut ambil bagian dalam menjalankan penerbangan jarak jauh (trunk operation), jarak sedang (semi trunk), dan jarak dekat (federline operation). Untuk mendukung operasinya itu, Merpati menambah armada dengan tujuh Dakota DC-3, yang dibeli dari Australia dan Garuda. Pesawat-pesawat ini dipakai untuk menerbangi rute di Nusa Tenggara Timur yang ditinggalkan Garuda. Sementara itu, penerbangan jarak jauh dan menengah baru dilaksanakan tahun 1970.
Guna meningkatkan efisiensi produksi, dan menjalankan tiga kelompok jalur niaganya, Merpati menambah armada dengan empat Vickers Viscount 828, tiga YS-11, dan dua HS-748. Sebagian dari pesawat-pesawat ini ada yang menerbangi rute internasional, seperti Pontianak-Kuching (Serawak,Malaysia) dan Palembang-Singapura. Di bawah Santoso pula, Merpati menjalin kerjasama dengan sejumlah perusahaan penerbangan nasional dan internasional. Merpati menyerahkan seluruh pesawat Dakota-nya kepada PT Suryadirgantara, untuk dioperasikan bersama. Selain itu, dalam meningkatkan pelayanan dan kinerja usaha, Merpati bekerjasama dengan sejumlah airlines asing, seperti Japan Air Lines, Qantas, Thai Airways International, Lufthansa, Olympic Airways, Trans Australia Airlines, dan China Airlines. Kerjasama tersebut, salah satunya berupa kesepakatan dalam hal ticketing. Dengan menggunakan tiket Merpati, penumpang dapat terbang dengan airlines asing tersebut.
Tahun 1972, dua Vickers Vanguard memperkuat lagi armada Merpati. Wilayah operasinya pun bertambah hingga ke Kuala Lumpur dan Darwin. Merpati juga memperoleh bantuan dua Twin Otter dari Pemerintah Kanada. Pada saat itu, Merpati mengoperasikan armada 32 pesawat, yaitu empat Vicker Viscount, empat YS-11, delapan Pilatus PC-6, tiga Dornier Do-28, tujuh Pilatus Porter, tiga DHC-6 Twin Otter, satu DHC-3 Otter, dan dua Vanguard.
Langkah-langkah usaha Santoso, yang kemudian mengelola airlines Seulawah yang bergabung dengan Mandala kini jadi Mandala Airlines, dilanjutkan Marsekal Muda Udara Ramli Sumardi (1975-1978). Merpati memiliki 37 pesawat, terdiri dari empat Dakota DC-3, , empat Twin Otter, dua Fokker F-27, dua HS-748, lima YS-11, lima VC-8, dan tiga VC-9, untuk menerbangi 97 kota di 19 propinsi. Pesawat-pesawat yang ada sebelumnya, sebagian memang sudah tak lagi operasi. Merpati juga mengoperasikan pesawat BAC-111 dan Boeing 707 untuk penerbangan borongan (carter) internasional, yang terbang Denpasar-Manila dan Los Angeles, Amerika Serikat-Denpasar, yang dihentikan tahun 1979.

Bergabung dengan Garuda

Tahun 1978, keluar PP, yang memengaruhi riwayat Merpati, yaitu PP Nomor 30/1978, yang intinya mengharuskan Merpati mengalihkan modal ke Garuda Indonesia. Merpati yang menjadi anak perusahaan Garuda, tetap menjalankan penerbangan perintis, lintas batas, transmigrasi, borongan wisatawan, dan angkutan barang, serta usaha-usaha lainnya. Pola operasi Merpati memang menyelenggarakan penerbangan pada semua jaraingan penerbangan dalam negeri, secara terpadu dan saling mengisi dengan Garuda.
Penerbangan perintis merupakan tantangan besar tapi mulia bagi Merpati. Namun dalam menjalankannya, Merpati mengikutsertakan sejumlah perusahaan penerbangan swasta. Seperti PT SMAC untuk melayani Sumatera Utara dan Tengah, sejak tahun 1978, dengan PT DAS untuk wilayah Kalimantan (sejak 1979), dengan PT Deraya di Kalimantan (sejak 1988), dengan PT Indoavia di Maluku (sejak 1988), dan dengan PT Asahi Mantrust di Kalimantan Timur.
Pasca keluarnya PP itu, tahun 1979, Dirut Garuda Wiweko Soepono pun menunjuk R.A.J.Lumenta (1979-1983) sebagai direktur utama. Dengan menerapkan sistem manajemen yang ketat dan terarah, Lumenta membawa Merpati ke untuk melangkah lebih baik lagi. Dia juga meyakinkan pemerintah agar memberi dana segar sebesar 18 juta dollar AS, untuk memodernisasi armada.
Lumenta lah yang pertama kali menyuarakan bahwa Merpati tengah merugi, bahkan menuju kebangkrutan. Oleh karena itu, menjadi anak perusahaan Garuda dinilai sebagai langkah paling strategis, ketika itu. Lumenta, yang memang "orang Garuda", pun mengelola Merpati dengan gaya manajemen Garuda, terutama dalam rencana penerbangannya
Kemajuan mulai terlihat, ketika tahun 1980, Merpati memperoleh tambahan 14 NC-212 dari pemerintah. Kemudian, ditambah lagi dengan pembelian empat pesawat bekas dan enam pesawat baru dari jenis yang sama. Selain itu, hanggar-hanggar pemeliharaan pesawat pun dibangun di Makassar dan Manado. Adanya tempat-tempat perawatan pesawat tersebut, merupakan awal keberhasilan Merpati beroperasi di wilayah Timur.
Beberapa bulan pada tahun 1983, Merpati dipimpin J. Soekardjo. Karena masa jabatannya yang singkat itu, ia jarang disebut-sebut. Selanjutnya, pada 10 November 1983, ia digantikan Soeratman (1983-1989).
Pada masa jabatan Soeratman, Merpati memperoleh hibah dua Pesawat Hercules L-100 (versi sipil dari C-130) dari Pelita Air Service, tahun 1986. Merpati juga membuka penerbangan Kupang-Darwin menggunakan HS-748, yang kemudian diganti dengan F-28.
Tanggal 25 Juni 1986, Merpati menandatangani kontrak pembelian 15 CN-235 dari IPTN, pada saat Indonesia Air Show (IAS) yang pertama di bekas Bandara Kemayoran, Jakarta. Penyerahan pertama pesawat yang awalnya merupakan hasil kerjasama CASA dan IPTN itu hanya berlangsung akhir tahun itu juga.
Pada Mei 1989, kembali ada penggatian pucuk pimpinan Merpati. Kali ini giliran Capt. F. H. Sumolang (1989-1992) Langkah ini sebagai titik tolak realisasi integrasi penuh atau operasi terpadu Merpati ke dalam Garuda Indonesia Group. Merpati ditetapkan sebagai pendukung operasi penerbangan Garuda di tingkat domestik. Sejumlah armada Garuda pun dialihkan kepada Merpati, antara lain, enam F-28 Mk.3000, 22 F-28 Mk. 4000, dan sembilan DC-9.

Berlanjutnya masalah Merpati

Pesawat Lockheed TriStar Merpati di Bandar Udara Perth (akhir 1990an).
Pesawat Airbus A310-300 Merpati di Bandar Udara Perth (akhir 1990an).
Masa-masa "gejolak" di dalam tubuh Merpati masih berlangsung . Ridwan Fataruddin (1992-1995) yang menggantikan Sumolang, harus berhadapan dengan permasalahan kekurangan tenaga pilot, menyusul penarikan kembali armada Garuda dari tubuh Merpati. Program pengiriman calon pilot ke Australia dan Selandia Baru yang baru dijalankan, belum dapat mengatasi kekurangan tersebut. Walau di belakangan hari, pasca pemisahan Merpati-Garuda, masalah pilot ini menguak lagi.
Rencana pemisahan kembali dengan Garuda memang menimbulkan banyak masalah yang menghambat operasi Merpati. Apalagi pemisahan itu juga memberi kesempatan pada Garuda untuk menerbangi rute-rute domestik, yang sebelumnya juga diterbangi Merpati. Garuda dan Merpati pun bersaing di pasar yang sama. Persaingan semakin ketat karena sejumlah perusahaan swasta pun ikut meningkatkan frekuensi pada rute yang sama.
Pada masa itu, Merpati sempat menambah armada, dengan Fokker-100, pesanan Garuda yang dialihkan, dan B737-200. Armada yang beroperasi pun menjadi 86 pesawat, walaupun masih belum mencukupi untuk menerbangi 466 rute di lebih dari 130 kota.
Permasalahannya memang kian terbuka, walau tidak pernah diungkapkan seperti sekarang. Masalah-masalah tersebut berdampak kepada ketepatan jadwal penerbangan (OTP, on time performace) yang makin rendah. Rendahnya tingkat OTP itu betul-betul menurunkan citra Merpati di mata pelanggannya.
Menurunnya kinerja tersebut, antara lain karena banyaknya tipe pesawat yang dimilikinya. Merpati ketika itu memiliki 8 tipe pesawat yang berbeda, yaitu Fokker-100, B737-200, Fokker-28, BAe ATP, Fokker-27, CN-235, NC- 212, dan Twin Otter. Belum lagi banyaknya pesawat yang perlu perawatan sehingga menurunkan utilisasinya. Merpati pun sering terdengar "merugi".
Permasalah yang terjadi saling berkait antara satu dengan yang lain. Misalnya, penyewaan pesawat yang penuh mark up, sewa pesawat yang tidak feasible, dan berbagai penyimpangan lainnya. Bahkan dikatakan, hampir semua transaksi yang terjadi tidak mendukung langkah-langkah untuk membawa perusahaan menjadi sehat.
Meski demikian, Merpati harus siap menghadapi kondisi yang ada. Menjelang pemisahan dengan Garuda, pada akhir tahun 1996, Merpati berusaha mandiri, antara lain dengan cara lebih mengefisienkan diri dan memperbaiki kinerja perusahaan. Namun semua itu belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan, antara lain karena belum bisa memecahkan masalah permodalan dan perestruktiurisasian di tubuh perusahaan. Kerugian pun makin membengkak hingga Rp135 milyar, dengan penurunan kinerja pelayanan yang seringkali mengecewakan para pelanggannya.
Direktur Utama Budiarto Subroto (1995-1999) berupaya mencari celah perbaikan dengan memangkas rute yang tidak menguntungkan. Saat itu, 34 rute perintis di Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi, yang biasanya diterbangi NC-212, dan enam rute lain di Papua, dipangkas jumlah frekuensinya dan ditutup, walau 28 rute perintis masih dipertahankan. Pada masa itu, Merpati lebih banyak menata kembali rute perintis.
Pada masa itu, Merpati dengan "berani" mendatangkan A310 dan A300-600 untuk menjelajah rute internasional ke Australia. Penerbangan ini membukukan utang yang tak sedikit. Belum lagi persoalan pesawat ATP yang tak lagi laik terbang sehingga grounded, walau tetap harus membayar sewa. Ada lagi Tristar, untuk menggantikan A310, dan kemudian BAe-146-100, yang operasinya hanya "sekejap".
Kerugian pun tak pernah "beranjak". Pada semester pertama 1997, misalnya, kerugiannya mencapai Rp40,1 milyar. Makin terpuruk pada semester kedua 1997, saat krisis mulai melanda. Hutang Merpati pun menjadi lebih besar dari asetnya.
Berdasarkan analisis pengamat penerbangan yang menyebut bahwa pada tahun 1998, nilai aset Merpati sudah mencapai lebih Rp 830 milyar di bawah utang, tidaklah menjadikan Merpati "bangkrut". Awal tahun 1999, Wahyu Hidayat dan jajarannya "diperintahkan" untuk membenahinya.
Gebrakan direksi baru itu cukup meyakinkan. Merpati mulai membenahi kinerja operasinya. Seperti, tingkat keselamatan penerbangan makin tinggi dan OTP (On Time Performance) secara perlahan merambat naik. Dengan slogan "Get The Feeling", Merpati mulai berbenah dengan serius. Tahun 1999, diumumkan bahwa Merpati meraih laba operasi, yang kedua setelah tahun 1992.
Namun, tantangan dan ancaman makin kompleks. Di luar, persaingan makin ketat. Selain bermunculan airlines swasta yang baru, Garuda pun makin menancapkan keberadaannya di domestik. Jumlah karyawannya saja 4.300 orang dengan 600 pilot, tapi hanya mengoperasikan 35 pesawat.

Merpati kini

Boeing 737-200
Tahun 2007, Merpati mulai melaksanakan program revitalisasi dan modernisasi armada secara parsial ,mengingat Merpati hingga saat ini masih bergelut dengan masalah keuangan[3][4], terutama armada perintis, dengan memesan 14 pesawat Xian MA60 dari Xian Aircraft China. Merpati juga sempat menyewa 1 ATR 72, namun kemudian dikembalikan karena dianggap tidak ekonomis (beberapa sumber menyatakan bahwa ATR hanya disewa sementara, menunggu tambahan MA60) . Merpati juga mengumumkan akan membeli 11 pesawat 30-kursi untuk rute domestik. (tipe belum dikonfirmasi), serta juga kemungkinan akan memesan pesawat N-219 buatan PTDI sekitar tahun 2011 ini.
Pada 7 Mei 2011 lalu, sebuah pesawat Xian MA60 (PK-MZK) jatuh di perairan Kaimana, menewaskan seluruh penumpangnya yang berjumlah 27 orang (21 penumpang dan 6 kru). Kecelakaan ini menambah panjang daftar kecelakaan yang melibatkan armada perintis Merpati. Kecelakaan terakhir yang dialami Merpati adalah pada tanggal 2 Agustus 2009, dimana sebuah Twin Otter jatuh di pegunungan di Papua, menewaskan seluruh 16 penumpangnya (13 penumpang dan 3 kru). Setelah kecelakaan di Kaimana, banyak pihak mempertanyakan keputusan Merpati membeli pesawat Xian MA60 tersebut, serta dugaan mark-up dan kolusi yang terjadi saat proses pembeliannya.
5 Juni 2011: Untuk memenuhi misinya sebagai 'Jembatan Udara Nusantara', Merpati Nusantara Airlines memerlukan 15 pesawat jet, ditambah 40 pesawat 50-penumpang dan 20 pesawat 20-penumpang seperti MA-60, NC-212, N-219, dan DHC-6 Twin Otter.[5] Bulan Juli 2011, Pemerintah dan DPR menyetujui penyuntikan modal senilai 516 milyar rupiah ke Merpati dalam APBN 2012.[6]. Kemudian, di bulan Oktober 2011, Pertamina menghentikan pasokan avtur ke Merpati di Surabaya dan Makassar akibat hutang biaya pembelian avtur senilai 270 milyar rupiah, sehingga menghentikan operasi Merpati dari kedua bandara tersebut[7]. Hutang total Merpati kepada Pertamina adalah sebesar 550 milyar rupiah, terdiri dari hutang pokok 270 milyar, dan sisanya bunga dan denda[8]. Namun, beberapa waktu kemudian, operasi Merpati dari kedua bandara tersebut sudah normal kembali.
Pada bulan Maret 2012, Merpati meluncurkan program "Tahun Emas Merpati Nusantara". Acara peluncuran yang disaksikan langsung oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan dan duta maskapai Merpati Deddy Mizwar ini memberikan garansi OTP (On Time Performance) yang dinamai "On Time Guarantee" apabila pesawat Merpati delay lebih dari 4 jam atau dibatalkan, undian berhadiah 1 Toyota Voll Fire, 1 Toyota Innova, 12 Nissan Juke, 12 Smart Car Marcedes, 55 iPad 2, 55 Samsung Galaxy TAB 7 dan 55 Black Berry Onyx, serta membuka layanan Call Center baru di Bandung di nomor 08041621621 dan (022)88887777. Dalam program inipun Dahlan Iskan juga menjadi bintang iklannya yang menyatakan ia akan selalu naik Merpati, yang berbunyi : "Saya dan keluarga akan mengutamakan selalu naik Merpati".

Rabu, 05 Juni 2013

Mengenal Pesawat Boeing 737-800NG

Boeing 737-800NG

Pesawat bikinan 2012 ini merupakan pesawat teranyar besutan pabrik Boeing yang berbasis di Everett, dekat Kota Seattle, negara bagian Washington, AS. Kode 'NG' di belakang seri angka pesawat ini memiliki arti Next Generation atau Generasi Berikutnya.
Boeing 737-800NG adalah pesawat komersial untuk penerbangan jarak dekat dan jauh. Pertama kali dibuat pada 2001, dan resmi mengudara pada 2007, Boeing 737-800NG dioperasikan pertama kali oleh maskapai penerbangan asal Indonesia yaitu Garuda Indonesia.
Boeing memulai pembangunan pesawat model 737 - Next Generation (NG) untuk pembinaan seri -600, -700, -800 dan -900. Dalam pembuatan NG ini, perubahan dilakukan dengan merancang sayap baru, peralatan elektronik yang baru dan rancangan ulang mesin pesawat.
Model 737 - NG juga dilengkapi berbagai teknologi yang diadopsi dari pesawat berbadan besar yang lebih canggih, Boeing 777.
Model 737 - NG memiliki kokpit berteknologi tinggi, sistem dalaman pesawat yang baru (diambil dari 777), dengan penambahan berupa 'wingtip' sehingga mengurangi biaya bahan bakar dan memperbaiki proses 'take-off' pesawat. Pesawat 737 - NG boleh dikatakan sebagai model baru karana ciri-cirinya yang banyak berbeda dengan seri-seri 737 yang lama.
Boeing membuat 737-800NG yang mampu terbang lebih jauh dam menampung penumpang lebih banyak daripada versi sebelumnya. Pada varian ini, kokpitnya telah dilengkapi dengan HUD (Head Up Display).
Peralatan ini biasanya dipakai pada pesawat militer atau pesawat tempur. Fungsinya adalah untuk mempermudah pilot dalam menentukan kemiringan pesawat baik secara vertikal maupun horizontal.
Pesawat ini juga menggunakan layar LCD yang terpadu dalam bentuk glass cockpit. Sistem glass cockpit ini diyakini akan menjadi tren bagi pesawat-pesawat baru.
Boeing 737-800NG diklaim memiliki jarak tempuh sejauh 5.425 km dengan kecepatan maksimum 853 km/jam.
Boeing membandrol pesawat 737-800NG dengan harga berkisar antara US$60 juta hingga US$80 juta, tergantung spesifikasi dari maskapai pemesannya.
Boeing 737 merupakan 'standar' armada bagi maskapai-maskapai di Indonesia. Hampir semua maskapai penerbangan di Indonesia pernah dan atau masih mengoperasikan 737, baik varian 'original' (seri -200) varian 'classic' (seri -300, -400, dan -500), maupun 'Next Generation' (seri -800 dan -900ER). [mor]

BOEING 777



Boeing 777
Boeing-Logo.svg
Boeing 777-200LR arrived in paris air show.jpgBoeing 777
 Tipe Wide-body jet airliner
 Produsen Boeing Commercial Airplanes
 Terbang perdana 12 Juni 1994
 Status Dalam produksi
 Pengguna Emirates
Singapore Airlines
Air France
United Airlines(launch consumer)
GARUDA INDONESIA
 Tahun produksi 1993–sekarang
 Jumlah produksi 1.060 sampai November 2012
 Harga satuan 777-200ER: US$205.5–231.0 million[1]
777-200LR: US$237.5–263.5 million[1]
777-300ER: US$257.0–286.5 million[1]
777F: US$252.5–260.5 million[1]
Boeing 777 adalah sebuah pesawat badan lebar mesin kembar berjarak jauh dibuat oleh Boeing Commercial Airplanes. Dia dapat membawa antara 305 - 550 penumpang dan memiliki jangkauan dari 5.600 dampai 8.870 mil nautikal (10.400 sampai 16.400 km). Penerbangan pertama 777 pada 1994.
Ciri unik dari 777 termasuk enam roda pendaratan per set di setiap roda pendaratan utama, fuselage yang bundar sempurna, dan "tailcone" belakang yang menyerupai mata pisau.
Pada 2005 harga satuannya sekitar AS$213 juta, meskipun harga bagi maskapai penerbangan dirahasiakan dan dapat bervariasi sangat besar.
Boeing 777 dibuat untuk menjadi pengganti Boeing 747, namun lebih efisien. Oleh karena itu, Boeing 777 yang dirancang untuk pengganti 747, menjadi pesawat bijet (mesin ganda) terbesar di dunia. Edisi 777 yang terbesar adalah 777-300 dan dengan jarak terjauh adalah 777-200LR. Emirates, maskapai nasional UEA adalah operator terbesar pesawat 777.

Daftar isi

Sejarah


Boeing 777-300/-200 milik Japan Airlines
Boeing 777 mulai terbang tahun 1995, dengan United Airlines. United membeli seri 777-200 untuk permulaan. Seri kedua adalah Boeing 777-200ER dan masuk masa service pada tahun 1997, dan dikirim pertama kali untuk British Airways. Edisi ketiga adalah Boeing 777-300 yang berbadan besar, dibuat pertama kali tahun 1998 kepada maskapai Cathay Pacific Airways. Edisi -300 dapat membawa 550 orang penumpang, karena perancangan 777-300 bertujuan untuk menggantikan Boeing 747-100 dan 747-200.
Edisi -200, -200ER, dan -300 adalah edisi pertama Boeing 777. Dua seri lain, yaitu Boeing 777-200LR dan Boeing 777-300ER adalah seri jarak panjang. Boeing 777-300ER ("ER" untuk Extended Range) adalah seri jarak panjang Boeing 777-300, dan masuk masa pada tahun 2004, dikirim pertama kali untuk Air France. Boeing 777-200LR memasuki masa layanan tahun 2006, dan pelanggan pertama 777-200LR adalah Pakistan International Airlines. Boeing 777-200LR pernah membuat rekor yaitu terbang dari Hong Kong ke London melewati Amerika Serikat tanpa henti. Jejak Pakistan International Airlines dalam pembelian Boeing 777-200LR diikuti oleh maskapai-maskapai lain sebagai berikut:
Keterangan: Emirates adalah operator terbesar Boeing 777, Beberapa operator Boeing 777 lainnya (baik yang sudah operasi maupun dalam pesanan):
dan lain-lain.

Spesifikasi teknis


Prototype Boeing 777-200
Boeing 777
Dimensi Boeing 777-200 Boeing 777-200ER Boeing 777-200LR Boeing 777-300 Boeing 777-300ER Boeing 777 F
Panjang 209 ft 1" (63,7 m) 209 ft 1 " (63,7 m) 209 ft 1"(63,7 m) 242 ft 4"(73.9 m) 242 ft 4"(73.9 m) 209 ft 1"(63,7 m)
Lebar (dari ujung sayap kiri ke ujung sayap kanan) 199 ft 11" (60.9 m) 199 ft 11 in (60.9 m) 212 ft 7" (64,8 m) 199 ft 11 in (60.9 m) 212 ft 7" (64,8 m) 212 ft 7" (64,8 m)
Tinggi 60 ft 9"(18.5 m) 60 ft 9"(18.5 m) 61 ft 1"(18.6 m) 60 ft 8"(18.5 m) 60 ft 8"(18.5 m) 61 ft 1"(18.6 m)
Ketinggian maksimal 43,100 ft (13,140 m) 43,100 ft (13,140 m) 43,100 ft (13,140 m) 43,100 ft (13,140 m) 43,100 ft (13,140 m) 43,100 ft (13,140 m)
Berat bersih 297,300 lb(134,800 kg) 304,500 lb(138,100 kg) 320,000lb(145,150 kg) 353,800 lb(160,500 kg) 370,000 lb(167,800 kg) 318,300 lb(144,400 kg)
Berat maksimum untuk terbang 545,000 lb(247,200 kg) 656,000 lb(297,550 kg) 766,000 lb(347,500 kg) 660,000 lb(299,370 kg) 775,000 lb(351,500 kg) 766,800 lb(347,800 kg)
Kecepatan maksimum Mach 0.84 (560 mph, 905 km/h, 490 knots ) Mach 0.84 (560 mph, 905 km/h, 490 knots ) Mach 0.84 (560 mph, 905 km/h, 490 knots ) Mach 0.84 (560 mph, 905 km/h, 490 knots ) Mach 0.84 (560 mph, 905 km/h, 490 knots ) Mach 0.84 (560 mph, 905 km/h, 490 knots )
Jarak maksimum   5,240 nmi(9,700 km) 7,725 nmi(14,310 km) 9,380 nmi(17,370 km) 6,005 nmi(11,120 km) 7,930 nmi(14,690 km) 4,900 nmi(9,070 km)
mesin 2x PW 4000,RR-800,GE90 PW 4000,RR-800,GE90 GE90 PW 4000,RR-800,GE90 GE90 GE90
kapasitas 440 (max),400 (2 class),301 (3 class) 440 (max),400 (2 class),301 (3 class) 440 (max),400 (2 class),301 (3 class) 365 (3 class),451 (2 class),550 (max) 365 (3 class),451 (2 class),550 (max) N/A(cargo)
Krew Kokpit 2 2 2 2 2 2

Catatan


Boeing 777 United Airlines
Boeing 777-300 merupakan pesawat terbesar untuk kategori pesawat komersial mesin ganda. Dan untuk Boeing 777-300ER (Extended Range), mesinnya, General Electric GE90-115B memiliki diameter yang sedikit lebih besar daripada diameter kabin Boeing 737 dan mesin ini merupakan mesin pesawat dengan gaya dorong terkuat di dunia.[rujukan?] Pesawat ini memiliki kemiripan dengan Airbus A380-800, yaitu pada roda pendaratannya. Kedua pesawat ini memakai enam roda untuk dua set roda pendaratan utamanya. Bedanya, Airbus 380-800 memiliki tambahan dua set roda pendaratan yang serupa dengan Boeing 747-400 (dengan empat roda per set roda pendaratan)
Pesawat Boeing 777 ini sudah dilengkapi dengan sistem kemudi fly-by-wire. Sistem ini biasanya dipakai pada pesawat tempur. Fungsinya adalah untuk mengatasi gejala "kurang ruang" yang terjadi pada saat pilot menggerakkan "tuas kemudinya". Sistem Fly-by-wire juga sudah diaplikasikan pada pesawat Airbus A320, A330, A340, A350 dan A380 Series. Sistem Fly-by-wire diperkirakan akan terus dipakai untuk setiap rancangan pesawat masa depan.
Boeing 777 adalah pesawat pertama yang bentuk badannya dirancang secara penuh dengan menggunakan desain komputer. Dan pada varian yang baru, pesawat ini dilengkapi dengan "ruangan lantai atas tambahan" yang dapat digunakan sebagai tempat istirahat bagi para awak pesawat. Dalam pembuatan kokpitnya, pihak Boeing mendapat masukan dari sekitar 600 orang pilot. Pesawat ini menggunakan layar LCD yang terpadu dalam bentuk glass cockpit.

Boeing 777-300ER pertama yang dibeli Garuda Indonesia lepas landas dari Bandar Udara Internasional Portland
Pesawat ini merupakan pesawat pertama dari Boeing yang menggunakan Glass Cockpit secara menyeluruh. Glass cockpit terkesan jauh lebih rapi dan elegan jika dibandingkan dengan cockpit konvensional. Sistem Glass cockpit ini dipercaya akan menjadi trend bagi pesawat-pesawat baru. Glass Cockpit telah digunakan pada Boeing 737 NG series, Boeing 747-400, Boeing 787 Dreamliner, Airbus A330, A340, A350 dan A380 series.
Boeing 777 juga telah mengeluarkan versi cargo.yaitu versi Boeing 777F (Freighter). Pesawat ini menggunakan sistem glass cockpit dan radar versi Honeywell terbaru. Konsumen perdana boeing ini adalah Air France.pesawat ini terbang perdana pada bulan Februari tahun 2010.

boeing 777-300ER pertama

Kecelakaan

17 Januari 2008 - Insiden BA 38. Kecelakaan hull-loss pertama Boeing 777 (Kecelakaan hull-loss adalah kecelakaan dimana pesawat yang terlibat dalam kecelakaan tidak dapat atau tidak ekonomis untuk diperbaiki dan dihapus dari armada). Disebabkan kehilangan tenaga mendadak pada mesin.

Minggu, 19 Mei 2013

Airbus A380


Airbus A380
Airbus logo.jpg
A300 · A310 · A320 · A330 · A340 · A350 · A380 · A400M
Singapore Airlines Airbus A380 woah!.jpg
Airbus A380 Singapore Airlines (Oktober 2009)
 Tipe Pesawat terbang komersial
 Produsen Airbus
 Terbang perdana 27 April 2005
 Diperkenalkan 25 Oktober 2007 pada Singapore Airlines
 Status diproduksi
 Pengguna Singapore Airlines
Emirates
Qantas
Air France
 Tahun produksi 2004 – present
 Jumlah produksi 59 unit pada Februari 2011[1]
 Harga satuan US$ 375.3 juta dolar
Airbus A380 yang diproduksi oleh Airbus S.A.S. adalah sebuah pesawat dua tingkat, dengan empat mesin yang mampu memuat 850 penumpang dalam konfigurasi satu kelas atau 555 penumpang dalam konfigurasi tiga kelas. Pesawat ini melaksanakan penerbangan perdana pada 27 April 2005 dan telah memulai penerbangan komersial pada akhir tahun 2007 setelah ditunda beberapa kali. Pesawat ini juga merupakan pesawat komersial (pesawat penumpang) terbesar yang pernah dibuat (dijuluki Superjumbo).
Saat pesawat pertama dibuat dan terbang mengangkasa ukuran pesawat terus dibuat semakin besar. Pada tahun 1950an Boeing memproduksi 707 yang besar. kemudian pada tahun 1970, Boeing memproduksi dan meluncurkan Boeing 747 yang berukuran lebih besar lagi. Tahun 2006, pesawat raksasa A380 baru mengangkasa.
Pesawat ini mempunyai mesin empat mesin buatan Rolls-Royce Trent-900 yang mampu memberikan daya dorong 36.280 kg atau empat mesin kipas turbo Engine Alliance GP 7200 (sebuah perusahaan patungan General Electric dengan Pratt & Whitney), dengan daya dorong 37.003 kg.
Pesawat A380 versi standar memiliki 854 kursi untuk penumpang, sementara A380-900 memiliki 1000 kursi untuk penumpang. di atas pesawat ini terdapat pusat pembelanjaan,tempat bermain anak-anak, dan fasilitas-fasilitas lainya (semua fasilitas ini disediakan sebagai opsi, tergantung pesanan maskapai).

Airbus A380 VIP ‘Flying Palace’ (‘Istana Terbang’)

Rancang bangun interior Airbus A380 berpenumpang 20 atau 60 orang berisikan peralatan lengkap kantor atau ruang tidur, kursi nyaman, cocktail bar atau ruang makan (dining room) atau relaxing zone dengan TV yang memiliki ukuran layar superbesar. [2] [3]

Mesin

Tenaga disediakan dengan pilihan mesin turbofan Rolls-Royce Trent atau Engine Alliance GP7200. Rolls-Royce Trent pada awalnya menang dalam kompetisi (dipesan lebih banyak oleh para pemesan A380) namun, Engine Alliance memulihkan penjualannya dan pada sekarang ini mesinnya mendapat setengah bagian pasar.

Peluncuran

Airbus A380 diperlihatkan untuk pertama kalinya kepada publik pada Januari 2005. A380 melakukan penerbangan perdananya pada 27 April 2005 dari Blagnac Toulouse International Airport, Toulouse, Perancis pada 8:29 UTC dan kembali mendarat dengan selamat pada 12:22 UTC di bandara yang sama.

Fasilitas

Airbus dan maskapai penerbangan yang akan menggunakan A380 menekankan kemampuan pesawat ini yang meningkatkan kenyamanan penumpang seperti kabin yang lebih luas dan berbagai fasilitas lain seperti bar, toko-toko, bahkan kasino seperti yang diumumkan oleh Virgin Atlantic.
Namun, melihat pengalaman Boeing 747 yang dahulu juga menjanjikan hal serupa, kelihatannya ruang yang lebih luas ini kemungkinan tidak akan dipakai untuk hal-hal seperti itu namun hanya akan dipakai untuk meningkatkan kapasitas pesawat dan menekan pengeluaran. Walau begitu, dengan perhitungan kapasitas 555 kursi, A380 seharusnya bisa menghadirkan kabin kelas ekonomi yang lebih luas.
Bandara juga memerlukan modifikasi pada terminalnya untuk dapat mengakomodasi naik turunnya penumpang yang lebih banyak. Gate 2 tingkat juga bisa diharapkan untuk meningkatkan efisiensi.

Opini

Opini publik saat pertama kali disajikan Airbus A380 adalah kekaguman akan ukurannya yang sangat besar dibandingkan B747 apalagi setelah melihat bahwa A380 benar-benar memiliki 2 tingkat dari depan sampai belakang.
Walau demikian, banyak juga yang mencemaskan akan terjadi kepadatan di bandara dan fasilitas-fasilitasnya termasuk saat mengambil bagasi dimana saat penumpang semakin banyak, jumlah bagasi yang diangkut akan meningkat.

Spesifikasi pesawat

Interior Airbus A380 “Flying Palace”
Airbus A380-800
1er vol de l' A380.jpg
Airbus A380 dalam warna Airbus
Jenis Pesawat penumpang sipil
Jumlah awak 2
Penerbangan perdana 2005
Penerbangan perdana komersial 2007
Produsen Airbus
Ukuran
Panjang 73 m
Sayap 79.8 m
Tinggi 24.1 m
Luas sayap 845 m²
Berat
Kosong 280.000 kg
Berat maksimum lepas-landas 560.000 kg
Kapasitas 555 (3-kelas)
840 (1-kelas)
Kap. bagasi 38 LD3 atau 13 palet
Tenaga
Motor Empat Rolls-Royce Trent 900 atau Engine Alliance GP7200 turbofan
Laju 271.560 lbf
Kinerja
Kecepatan laju 0.85 M (~ 902 km/jam)
Kecepatan maks. 0.96 M (~ 1020 km/jam)
Radius operasi 15.100 km
Ketinggian 13.100 m 43.000 kaki
Kecepatan naik m/min

Pemesanan

Saat ini, sekitar 15 maskapai penerbangan sudah memesan pesawat A380 ini dengan total 154 order. Pemesanan tertinggi dilakukan oleh Emirates sejumlah 41 buah. Maskapai lain yang juga memesan A380 ini antara lain Lufthansa, Qantas, Singapore Airlines,Korean Air, China Southern Airlines, Air France, dan Malaysia Airlines. Airbus sendiri juga menawarkan tipe ini kepada Garuda Indonesia. Pihak Garuda mengatakan sedang mengkaji tawaran ini, terutama mengingat kebutuhan Garuda akan pesawat berpenumpang banyak untuk melayani penerbangan Haji[4] . Airbus sendiri menyatakan bisa memenuhi pesanan 4 buah per bulan.
Penerbangan komersial pertama sudah digembar-gemborkan oleh Singapore Airlines yang sudah mempromosikan bahwa mereka akan menjadi maskapai pertama yang menggunakan A380 untuk rute London dan Sydney dari Singapura yang dijadwalkan dimulai pada akhir Oktober 2007.

Route-proving

Pada tahun 2006, Airbus A380 telah menjalani 18 hari tur keliling dunia (route-proving) menuju beberapa kota besar di dunia. Route-proving untuk tahun 2006 terbagi atas empat rute, yaitu:
Airbus A380 juga melakukan route-proving kedua pada tahun 2007 selama 12 hari dengan menggunakan nama Lufthansa. Route-proving untuk tahun 2007 terbagi atas tiga rute, yaitu:

Trivia

  • Kedatangan A380 di Hong Kong saat route-proving terlambat dua jam akibat kebocoran salah satu pipa hidraulik di Frankfurt. Di bandara Frankfurt tidak tersedia suku cadang A380 sehingga harus didatangkan dari pabriknya di Toulouse, Perancis.
  • Di München, lebih dari 23.000 orang memadati bandar udara Munich untuk melihat pesawat double-decker (dua tingkat) itu.

Konfigurasi

Airbus baru ini akan dijual dalam dua versi:
  • Pesawat terbang penumpang (A380-800)
  • Pesawat terbang penumpang (A380-900) (belum secara resmi diproduksi)
  • Pesawat kargo (A380-800F) (150 ton) (belum secara resmi diproduksi)
Perbandingan pesawat Airbus A380 dengan pesawat Boeing 747-8 Intercontinental

A380-900

Airbus akan menambah satu tipe untuk A380 (lebih panjang dari seri -800(79.4–73 m or 260–240 ft).[5]) yakni A380-900. Di mana pesawat ini mampu menampung 650 hingga 900 orang penumpang. Jika dibandingkan dengan A380-800 yang mampu menampung 800 orang penumpang tipe ini mampu memuat 200 orang penumpang lebih banyak. Bulan Mei 2010, Airbus mengumumkan penundaan produksi varian ini[6]. Maskapai yang tertarik membelinya antara lain Virgin Atlantic Airways dan Emirates [7]. Saat ini banyak maskapai penerbangan yang memiliki armada A380 yang memesan pesawat terbang penumpang terbesar di dunia ini. Untuk mengantisipasi masalah yang besar, pihak bandara Internasional sudah memodifikasi airbridge atau garbaratanya menjadi 2 tingkat.

Kecelakaan

Airbus A380 telah mengalami 1 insiden terhitung sejak Februari 2011 Pesawat Airbus A380 milik maskapai Qantas dengan rute/jurusan Singapura-Sydney (QF32) (pesawat ini dinamai Nancy-Bird Walton) mengalami kejadian mesin no. 2 yang meledak (mengalami kerusakan) di atas kota Batam, Indonesia[12][13]. Pesawat ini mendarat darurat di bandara Changi, Singapura. Pesawat ini membawa 433 penumpang dan 26 awak. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Menurut CEO Qantas Airways, Qantas akan memberhentikan sementara pengoperasian Airbus A380 untuk memeriksa mesin pesawat Airbus tersebut. Mesin yang bermasalah tersebut adalah Rolls-Royce Trent 900. Investigator menyatakan penyebabnya adalah kebocoran oli mesin, diduga akibat cacat produksi.